90 Persen Warnet Indonesia Masih Pakai Software Bajakan


Ditengarai sebagian besar warnet Indonesia masih menggunakan piranti lunak bajakan untuk menjalankan usahanya. Agar tidak menjadi sasaran empuk petugas hukum, sebaiknya mereka mengganti dengan yang asli atau dengan piranti lunak alternatif.

Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Presidium Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI), Judith MS, saat menggelar konferensi pers soal lisensi untuk warnet di Gedung Bursa Efek Jakarta (14/4).

Judith mengatakan, dari ribuan warnet yang ada di seluruh Indonesia, hanya sekitar sepuluh persen saja yang menggunakan produk piranti lunak legal. Sisanya, menurut Judith, masih menggunakan produk bajakan. Sebagian di antaranya adalah juga anggota AWARI.

AWARI adalah perkumpulan yang dibentuk oleh para pengusaha warnet di seluruh Indonesia. Bermula dari wadah saling berbagi saran lewat maling-list, AWARI tumbuh menjadi organisasi yang solid  meski sampai saat ini masih bersifat maya. Rencananya dalam waktu dekat organisasi yang tercatat memiliki 2.548 anggota ini akan membentuk badan hukum sendiri.

Dikatakan Judith, kendala utama yang menyebabkan masih digunakannya piranti lunak bajakan itu adalah harga piranti lunak asli yang relatif tinggi. Bagi sebagian besar warnet yang bermodal pas-pasan, harga piranti lunak asli tentu akan mencekik leher.

“Usaha warnet itu modalnya besar. Peralatannya mahal-mahal mulai dari komputernya, listriknya, bandwidth-nya, dan lain-lain. Satu-satunya yang murah adalah harga sewanya kepada konsumen,” tukas Judith.

Harga piranti lunak memang bisa lebih tinggi dari harga piranti kerasnya. Komputer rakitan berbasis AMD 2Ghz bisa didapat dengan harga Rp2,5 jutaan. Agar bisa jalan dan disewakan, setidaknya satu komputer perlu sistem operasi dan sebuah sistem aplikasi dasar.

Harga sistem operasi sekarang (mis: Windows XP Home SP2 for Indonesia only) sekitar Rp800 ribuan, dan harga aplikasi dasar (mis: Office Basic 2003) sebesar Rp1,6 jutaan. Total untuk dua piranti lunak dasar itu adalah Rp2,4 jutaan, belum termasuk piranti lunak untuk server agar beberapa komputer bisa terhubung ke internet secara bersamaan.

Belum dianggap modal

Menanggapi hal tersebut, Megawaty Khie, Direktur Small and Mid-Market Solution & Partner Group PT Microsoft Indonesia mengatakan bahwa masalah ini timbul karena pengusaha warnet Indonesia masih belum memasukkan harga piranti lunak ini sebagai modal kerja.

Selama ini, ujar Megawaty, pengusaha warnet masih menganggap bahwa modal untuk mendirikan warnet hanya terdiri dari beberapa buah perangkat komputer dan sambungan internet saja. Padahal seharusnya mereka juga mengeluarkan modal untuk membeli piranti lunak asli.

Meski demikian, Microsoft Indonesia akan memperhatikan saran dan keluhan dari para pengusaha warnet itu. Pasalnya, menurut Megawaty, pihaknya menganggap bahwa warnet di Indonesia adalah sebuah potensi besar yang perlu didukung keberadaannya.

Megawaty juga tidak akan memaksa seluruh warnet untuk menggunakan piranti lunak Microsoft yang asli. Pasalnya, saat ini sudah beredar banyak piranti lunak alternatif yang berharga lebih murah bahkan ada yang gratis. “Pilihan bergantung para pengusaha warnet,” ujarnya.

Senada dengan Megawaty, Judith juga mengimbau kepada seluruh warnet khususnya anggota AWARI yang masih menggunakan produk bajakan agar beralih kepada produk alternatif seperti Linux. Khususnya, agar terhindar dari aksi sweeping oknum aparat kepolisian yang saat ini makin sering terjadi.

sumber:http://www.hukumonline.com

One response to “90 Persen Warnet Indonesia Masih Pakai Software Bajakan

  1. Namanya Juga Usaha Hee.. Hee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s