Kebun Kurma


Produsen Terbaik di Arab Saudi

Tak ada yang percaya mantan Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap pada bulan Desember. Begitu kata muthawwif (pembimbing ibadah) yang membimbing jamaah umrah satu hari. Foto tertangkapnya Saddam Hussein memang dilansir sekitar pertengahan Desember. Tampak dalam gambar ketika itu Saddam sedang bersembunyi di perkebunan kurma. Pohon kurma di belakangnya tampak sedang berbuah.

”Bahkan bagi orang Badui yang tidak sekolahpun tahu bahwa buah kurma dipanen bulan Agustus dan mulai berbuah Juni-Juli,” katanya. Jadi, berita Sadadm ditangkap bulan Desember menurut mereka hanya angin lalu. Ada dua kemungkinan, Saddam ditangkap lebih awal. Atau, hanya orang yang mirip Saddam yang ditangkap.

Bicara soal kebun kurma, kota Madinah adalah salah satu penghasil kurma terbaik. Kurma menjadi andalah pertanian Madinah. Kurma Madinah dikabarkan merupakan yang terbaik yang diproduksi tidak saja seantero Arab Saudi tapi juga Timur Tengah. Buah kurma asal Madinah, lebih kering, kenyal dan manis. Kurma Madinah dikenal dengan nama Safawi, Kurma Ambhar, dan Kurma Nabi.

Jika sedang berada di Madinah, perkebunan kurma merupakan salah satu yang dikunjungi jamaah. Maklum, di Indonesia meski ada yang berhasil menanamnya belum ada kabar yang menyatakan pohon kurma yang ditanamnya menghasilkan buah.

Di Madinah, perkebunan kurma tampak di mana-mana. Begitu memasuki Kota suci ini, tampak pohon kurma baik dalam bentuk perkebunan maupun yang tumbuh dan di tanam di tepi jalan. Melihat perkebunan kurma tak ubahnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Biasanya perjalanan menuju perkebunan kurma disertai dengan perjalanan mengunjungi situs bersejarah terutama Masjid Quba dan Qiblatain. Di arah dekat Masjid Quba terdapat sebuah perkebunan kurma lengkap dengan pabrik pengeringnya.

Meski sebagian besar jazirah Arab Saudi berupa gurun pasir, pohon kurma harus banyak air. Pohon kurma ditanam dalam petak tesendiri. Satu petak tanah sekitar lima kali lima meter persegi untuk sebuah pohon kurma. Lahan di sekeliling pohon diberi jalur untuk pengairan. Jika belum berkesempatan ke Tanah Suci mudah membayangkan lahan pohon kurma. Bayangkan sawah yang petak pembatasnya itu bukan pematang tapi pengairan. Begitulah di satu petak itu satu pohon kurma tumbuh.

Jadi areal yang dibutuhkan cukup luas. Di Madinah banyak oase sehingga pohon kurma bisa tumbuh. Pohon kurma berbuah pada sekitar Juli-Agustus. Pada saat itu, masyarakat Arab saudi banyak menyajikan kurma segar sebagai menu sehari-hari. Di Masjid Nabawi, jamaah umrah disediakan kurma segar mengkal (rutab) yang disajikan bersama kopi khas Arab Qahwah.

Rasa qahwah yang pahit, karena diramu dari air jahe dan kapulaga, dipadu rasa manis dari rutab cukup unik dan enak. Sajian itu disertai juga dengan roti dan susu asam (laban atau yoghurt). Cara memakannya roti dicampur laban. Sedangkan qahqwah disertai rutab. ”Ini puncak panen. Ibu beruntung bisa mencicipi dan bahkan mungkin membawa kurma segar pulang ke rumah,” begitu kata muthawwif yang membimbing jamaah umrah di Madinah. Jika jamaah haji masih mencicipi rutab saat ini kemungkinan yang sudah dibekukan. Rutab dapat ditemui di jalan-jalan dalam kondisi beku.

Jamaah umrah bulan September memang beruntung karena bisa senantiasa mencicipi kurma segar yang rasanya manis lunak dan manis pahit. Di perkebunan, jamaah menyaksikan luasnya areal pohon kurma. Lengkap dengan buah kurma yang masih menggelayut di pohon. Buahnya merah dan ada pula yang kecoklatan tanpa mulai matang.

Sebuah pohon kurma bisa menghasilkan puluhan kilo kurma matang. Buahnya menggelayut seperti buah sawit. Hanya saja tandannya jauh lebih banyak. Satu pohon bisa menghasilkan enam hingga tujuh tanda kurma matang yang besar-besar. Jika satu tandan berisi lima belas kilogram kurma segar, berapa kilo satu pohon bisa menghasilkan. Jika mengunjungi Tanah Suci bulan September, bukan hanya pohon di perkebunan yang mengalami panen tapi juga pohon-pohon di tepi jalan. Buah kurma menggelayut dan tampak amat menggoda untuk mengambilnya.

Kunjungan ke perkebunan kurma tentu bermuatan bisnis. Di bagian depan perkebunan, tampak sebuah kios yang menjajakan kurma matang dan kurma mengkal. Harga yang ditawarkan di kios ini jauh lebih murah dibanding membelinya di pasar kurma. Harga kurma Safawi misalnya 15 riyal per kilogram. Kurma Ajwa bergantung ukuran dijual mulai harga 40-120 riyal per kilo. Sedangkan kurma Ambhar dijual sekitar 30-38 riyal per kilo.

Tak hanya menjual kurma, kios itu juga menjual coklat dan suvenir khas haji. Malah ada juga mukimin, orang Indonesia yang bekerja dai Arab Saudi, menjajakan jam tangan, tasbih kayu koka dan lainnya. siti darojah sw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s