Strategi Bank dalam Menghadapi ACFTA: “MENGEMBANGKAN PEMBIAYAAN UKM DENGAN MEMPERKUAT MANAJEMEN RISIKO”


Dalam acara workshop dua hari, pada tanggal 21-22 April 2010,  yang diselenggarakan oleh Indonesian Risk Professional Association, para staf/pejabat dari berbagai Perbankan dan Lembaga Keuangan mencoba membahas, apa peluang  diterapkannya ACFTA dan bagaimana strategi Bank dalam menghadapinya. Disini Bank berperan untuk membiayai berbagai usaha debitur, yang tentunya akan ada pengaruhnya sehubungan dengan diterapkannya ACFTA sejak bulan Januari 2010. Bagaimana pengaruhnya terhadap usaha debitur, apa peluang dan tantangan Bank dalam pembiayaan, dan bagaimana mengembangkan pembiayaan UKM dengan tetap memperhatikan manajemen risiko.  Saya akan mencoba meringkasnya di bawah ini.

Latar belakang

Globalisasi diharapkan membawa proses sosial dan ekonomi yang alamiah, yang  membawa negara dari berbagai penjuru dunia berada dalam satu ikatan yang semakin kuat untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan baru, dalam kesatuan ko-eksistensi yang menghapus batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat dunia, sehingga terdapat perekonomian yang efisien dan berimbang.

Dengan globalisasi, diharapkan adanya:

  1. Kesamaan pandang dan prinsip: the same level of playing field: standarisasi, kompetensi, regulasi.
  2. Liberalisasi dan integrasi perekonomian (borderless world).
  3. Pengurangan proteksi ekonomi domestik.
  4. Akses Pasar dan kerjasama terbuka luas: ACFTA (Asean-China Free Trade Agreement).
  5. Peningkatan volume perdagangan produk unggulan setiap negara.
  6. Benchmarking dan tuntutan stakeholder (regulator, investor, konsumen, rating agency, manajemen dan karyawan perusahaan), agar negara dan produsen mengikuti praktek terbaik dari global market.
  7. Perubahan pesat bidang teknologi, sistem informasi, dan komunikasi: Perubahan pesat ini akan merubah cara berbisnis, menjadi IT driven Business, seperti: E-Banking, I-Banking, Everywhere-Banking. Adanya tekanan bagi Bank untuk menciptakan inovasi produk keuangan, seperti derivatives dan Bankassurance. Juga diperlukan kecepatan, keamanan dan kenyamanan bisnis memanfaatkan saluran elektronik (high tech dan high touch)
  8. Meningkatnya systemic risks.

Terjadi kecenderungan perubahan dari Second Wave ke Third Wave (Alfin Tofler), yang dicirikan oleh:

  • Sifat organisasi : hierarchy menjadi lebih flat, mengutamakan networking, lebih fleksibel, dan organisasi diharapkan lebih mudah beradaptasi agar bisa mengikuti perubahan
  • Apa yang sebelumnya mengejar market share menjadi berupaya ke arah  market creation.
  • Empowerment.
  • Kesuksesan perusahaan : visi, misi dan value. creation, gaya kepemimpinan yang visioner.
  • Kualitas produk dan layanan yang prima menjadi prioritas.
  • Orientasi karyawan: dari job security > personal growth.
  • Kekuatan perusahaan dari penumpukan cash ke penguasaan informasi.
  • Sikap karyawan dari risk aversion menjadi risk prone.

Apa Arti ACFTA?

Kesepakatan pembentukan perdagangan bebas ACFTA diawali oleh kesepakatan para peserta ASEAN-China Summit di Brunei Darussalam pada November 2001. Hal tersebut diikuti dengan penandatanganan Naskah Kerangka Kerjasama Ekonomi (The Framework Agreement on A Comprehensive Economic Cooperation) oleh para peserta ASEAN-China Summit di Pnom Penh pada November 2002, dimana naskah ini menjadi landasan bagi pembentukan ACFTA dalam 10 tahun dengan suatu fleksibilitas diberikan kepada negara tertentu seperi Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam.

Pada bulan November 2004, peserta ASEAN-China Summit menandatangani Naskah Perjanjian Perdagangan Barang (The Framework Agreement on Trade in Goods) yang berlaku pada 1 Juli 2005. Berdasarkan perjanjian ini negara ASEAN 5 (Indonesia, Thailand, Singapura, Philipina, Malaysia) dan China sepakat untuk menghilangkan 90% komoditas pada tahun 2010. Untuk negara ASEAN lainnya pemberlakuan kesepakatan dapat ditunda hingga 2015. Pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN-6 dengan RR China yang dimulai pada  1 Januari 2010 membuat banyak pihak terperangah, walaupun sebetulnya kesepakatan ini telah ditandatangani lama. Masyarakat belum memahami apa manfaat, ancaman maupun konsekuensi dari pemberlakuan ACFTA ini. Namun demikian, karena ini telah disepakati, ada baiknya kita lebih mengenal dan memahami, sehingga dapat melakukan langkah-langkah strategis yang diperlukan.

Peluang adanya ACFTA

  1. Dengan akses pasar yang makin terbuk, maka terjadi peningkatan volume perdagangan produk unggulan setiap negara ASEAN 6 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam) ke China (jumlah penduduk 1,3 miliar dan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia).  Begitu pula sebaliknya dari China. Selain itu akan terjadi peningkatan kapasitas produksi, pemasaran, SDM dan lembaga. Pengusaha dapat mengurangi kelebihan persediaan akibat kegairahan berproduksi. Kita juga dapat meningkatkan produk komplemen yang tidak mampu dihasilkan oleh China. Dan yang penting adalah bagaimana agar terjadi peningkatan efisiensi, produktivitas dan kreativitas guna peningkatan daya saing berkelanjutan, yang pada akhirnya akan menghasilkan peningkatan margin keuntungan.
  2. Harga barang dan jasa di pasaran menjadi lebih murah, dengan pilihan ragam yang semakin banyak.
  3. Peluang industri manufaktur yang berbasis sumberdaya alam meningkat.
  4. Ekspor komoditas dan produk pertanian dan produk bersumberdaya alam yang spesifik dari Indonesia meningkat (kelapa sawit, karet, kakao, kopi, dll).

Tantangan adanya ACFTA

Mau tak mau kita semua harus siap dalam menghadapi ACFTA ini, karena bila kalah bersaing dengan produk China ataupun Negara lain, akan terjadi:

  • Penurunan penjualan produk-produk  dalam negeri.
  • Industri manufaktur nasional dapat terancam eksistensinya, menimbulkan pengangguran.
  • Potensi kerugian termasuk di sektor baja, elektronik, tekstil dan produksi teksil (TPT), furnitur, alas kaki, mebel, kerajinan yang berbasis metal.
  • Potensi kerugian di sektor industri dapat  bernilai triliunan akan dirasakan di kuartal pertama tahun 2010, terutama bagi sunset industry

Bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi ACFTA?

Negara, perusahaan dan produk Indonesia harus mampu bersaing di pasar domestik dan pasar bebas ACFTA:

  • kualitas, harga dan keberagaman produk dan pelayanan.
  • mampu memanfaatkan ACFTA dengan memasuki pasar global.
  • mencapai skala ekonomi agar mampu bertahan secara sustainable.
  • mengembangkan industri andalan, unggulan dan sunrise industry.

Apa peran Perbankan dalam menghadapi ACFTA?

  • Perluasan pasar Asean 6 – China, dan pasar domestik.
  • Pembukaan outlet dan kantor cabang di Asean 6 dan China.
  • Peningkatan kapasitas pembiayaan dan mobilisasi dana.
  • Pembiayaan UMKM unggulan.
  • Penerapan manajemen risiko agar bank mampu menangkap peluang (strategic risk management) dan meningkatkan efisiensi.

Apa yang dimaksud dengan profil Bisnis UKM Unggulan?

  • Agribisnis dan Agroindustri:(dari hulu sampai hilir). Ada peluang ekspor komoditas dan produk spesifik Indonesia berpotensi meningkat (kelapa sawit, karet, kakao, kopi, kopra, buah eksotik:salak, mangga, manggis, duku, dll).
  • Industri kreatif.
  • Industri/jasa yang berbahan baku domestik.
  • UKM berbasis sumber daya lokal.
  • Produk manufaktur khas Indonesia.
  • Komoditas dan produk ciri khas geografis Indonesia.

Komoditas dan Produk Agribisnis potensial yang diekspor ke China:

Komoditas dan produk agribisnis potensial yang diekspor ke China, antara lain: Kelapa sawit (CPO dan turunannya), karet alam, kakao, Kopi, Rempah-rempah, produk biofarma, Pulp dan kertas, minyak atsiri, tanaman obat, gambir, rotan (olahan)

Sedangkan komoditas/produk non komplementer  yang potensial, antara lain:

  • Buah-buahan tropika eksotik (mangga, nenas, pisang, durian, manggis, rambutan, pepaya).
  • Sayuran tropika khusus (kacang panjang, nangka, labu siam, kangkung dll).
  • Ikan tangkap: kerapu, ikan pari, tuna, teri dll.
  • Udang.
  • Rumput laut.
  • Makanan olahan khas Indonesia.

Produk Indonesia masih mampu bersaing, disebabkan: Indonesia paling sedikit bersaing head to head dengan produk China, dibandingkan dengan negara lain, Malaysia 88%, Thailand 91% dan Indonesia baru 26%. Usahawan Indonesia baru sekitar 20% yang membidik pasar Luar Negeri dan baru 11 % berorientasi ekspor. Pelaku usaha dapat menyiasati dengan mencari produk yang tak mungkin disaingi oleh China, misalnya kain berbasis kreatif, batik tulis, karya seni dsb nya.

Industri kreatif , termasuk industri yang sulit disaingi, karena industri kreatif adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dengan mengandalkan kreativitas, keahlian, dan bakat, yang memiliki potensi ekonomi dan menciptakan peluang kerja bagi banyak orang. (UK Government Department of Culture). Industri kreatif adalah industri yang berfokus pada kreasi dan eksploitasi  karya kepemilikan intelektual: seni rupa, film dan televisi, piranti lunak, permainan, atau desain fesyen, termasuk layanan kreatif antar perusahaan seperti iklan, penerbitan dan desain (Wikipedia).

Kinerja industri kreatif dalam menyumbang PDB nasional semakin dapat diperhitungkan. Rata-rata kontribusi PDB industri kreatif Indonesia tahun 2002-2006 = 6,3 % dari total PDB nasional, dengan nilai Rp.104,6 triliun. Kontribusi industri kreatif tahun 2009 = 7,6% dari PDB. Nilai ekspor industri kreatif : Rp.81,4 triliun = 9,13 % terhadap total nilai ekspor nasional. Penyerapan tenaga kerja = 5,4 juta tenaga kerja. PDB industri kreatif di peringkat ke 7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada di Indonesia, dengan dominansi kelompok fesyen, kerajinan, periklanan dan desain. Potensi industri kreatif lebih banyak dilakukan oleh anak-anak muda.  Berdasarkan demografi, penduduk Indonesia didominasi oleh anak muda berusia di bawah 29 tahun.

Proyeksi kinerja 5-10 tahun mendatang: Sumbangan industri kreatif  bisa mencapai 9% dari PDB, dengan nilai total ekspor produk kreatif Rp114,9 triliun  atau  7,52% dari PDB nasional. Kontribusi ekonomi kreatif yang berbasis budaya, seni, dapat menyerap 7,7 juta tenaga kerja. Melihat kondisi tersebut, terlihat bahwa industri  kreatif layak diperhitungkan, apalagi didominasi oleh anak muda.

Bagaimana kesiapan UKM menghadapi ACFTA?

  • Walau peranannya sangat strategis, namun UKM masih memiliki berbagai kelemahan dan tantangan.
  • Belum seluruh UKM memiliki kesiapan menghadapi ACFTA.
  • Kelemahan masih pada manajemen dan SDM, teknologi dan produksi, marketing, daya saing, produksi, dan permodalan.
  • Budaya dan paradigma bersaing yang masih perlu ditingkatkan.
  • Bila Bank mampu mendeteksi kelemahan UKM dan berhasil membantu memperbaikinya hingga bankable, terdapat potensi nasabah sebagai sumber pendapatan bank secara jangka panjang.

Fakta dan keterbatasan UKM

Jumlah UMKM tahun 2006 sekitar 48 juta, namun yang telah memperoleh kredit Bank hanya sekitar 16,8 juta (35%) Sebabnya: a) keterbatasan UKM dalam memenuhi persyaratan mendapatkan kredit dari bank. b) Ketiadaan jasa bank komersial di suatu daerah tertentu.

Dari hasil analisis terhadap UKM, dapat diketahui bahwa:

  1. Peluang dari UKM : a). Populasi unit usaha UMKM sangat dominan (99,9%). b). Kemampuan menampung tenaga kerja sangat dominan (96,18%). c). Tahan terhadap krisis/ulet. d). Kegiatan usaha relative sederhana, fleksibel, efisien, margin tinggi. e).Umumnya taat membayar kredit (NPL 3,5%). f). Peluang cross selling. g). Kurang sensitive terhadap sukubunga. h).Banyak usaha berbasis agribisnis, dan industri kreatif yang terbuka luas untuk UKM. i).Profitabilitas tinggi. j).Potensi pasar masih luas. k).Diversifikasi portofolio, pendapatan dan risiko.l).Bobot risiko lebih rendah, sehingga menghemat PPAP dan modal.
  2. Tantangan (yang masih harus diperbaiki) : a)Kontribusi UMKM pada PDB relatif kecil (53,28%). b)Manajemen masih tradisional. c)Catatan dan laporan keuangan masih sederhana dan kadang harus direcasting oleh Bank. d)Kualitas SDM. e)Skala dan teknik produksi yang masih terbatas. f)Pasar kecil dan kemampuan pemasaran terbatas, kurang mampu mengantisipasi permintaan pasar. g)Minimnya diversifikasi produk. Akses informasi terbatas. h)Sistem teknologi produksi dan informasi masih sederhana.  i) Tidak memiliki produk unggulan yang spesifik. Infrastruktur yang tidak memadai. j)Keterbatasan UKM dalam memenuhi persyaratan mendapatkan kredit dari bank. k)Ketiadaan jasa Bank komersial di suatu daerah tertentu.

Sumber bacaan:

  1. Angreni, G.R. dkk.” Strategi Bank dalam Menghadapi ACFTA: Mengembangkan Pembiayaan UKM dengan Meningkatkan Manajemen Risiko.” Dibawakan dalam workshop IRPA, Jakarta, 21-22 April 2010.
  2. Gumbira, E. “Dampak dan Peluang Asean-China Free Trade Agreement pada Kinerja Agribisnis dan Agroindustri Indonesia”. Institut Pertanian Bogor, 2010
  3. Yogix. “Apa itu ACFTA? “http://blogs.unpad.ac.id/yogix/2010/02/22/apa-itu-acfta/

Ditulis dalam Keuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s