Reseller untuk monol kotak

Monol Kotak (sms 081703260509)

Reseller for Round Monol

monol bulat (sms 081703260509)

pink, white, black, light purple, dark purple, brown, green, yellow, orange.

Jual Bibit Lele Dumbo

ukuran kecil sampai 5 cm

tempat jual: mutiara 6, pare

info dan pemesanan: 081 21 7113 13

pudjo_asmara@yahoo.com

Tips Sukses Bisnis Bengkel Cat Mobil

Bagi para penggila otomotif, penampilan body mobil menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan. Karena bagian body mobil inilah yang pertama kali dapat dilihat oleh orang lain. Hal ini membuat para pemilik mobil saling berlomba memoles mobil yang dimilikinya. Agar selalu terlihat baru dan menawan, cara yang sering digunakan yaitu dengan mengecat ulang mobil yang dimilikinya. Cat ulang mobil memang  merupakan  peluang usaha tersendiri dibidang otomotif yang tak pernah mati gaya.  Beberapa Informasi yang perlu kita perhatikan dalam menjalankan usaha ini, antara lain:

Konsumen

Konsumen bisnis bengkel cat mobil tentunya mereka-mereka yang memiliki mobil sebagai kendaraan pribadinya atau sebagai unit usahanya (jasa transportasi). Keinginan untuk selalu memperbaharui penampilan kendaraan merupakan prospek pasar bisnis ini. Banyaknya resiko kecelakaan yang menyebabkan kerusakan pada body mobil, juga memberikan peluang pasar yang cukup besar untuk meningkatkan jumlah konsumen pada bisnis bengkel cat mobil ini.

Kunci Sukses

Jasa bengkel cat mobil memiliki tarif harga yang lebih mahal dari bengkel mobil pada umumnya. Biasanya untuk jasa pengecatan, tarif yang ditawarkan minimal Rp 2.500.000,00 untuk satu mobil. Namun besarnya harga juga masih bisa disesuaikan dengan ukuran bagian mobil yang akan dicat ulang, sesuai dengan permintaan konsumen.

Proses pengecatan mobil tidaklah mudah, karena untuk menghasilkan cat yang sempurna membutuhkan bahan cat yang berkualitas, tenaga ahli, peralatan bengkel cat mobil yang lengkap, serta fasilitas oven yang memenuhi syarat. Jika faktor tersebut tidak diperhatikan biasanya hasil cat yang diperoleh tidak maksimal seperti cat yang dihasilkan keriting, warna yang dihasilkan belang  (tidak sama), partikel silver tidak sama atau tidak rata, penyemprotan cat yang tidak merata, kurangnya tingkat glossy dari pernish (clear coat) yang digunakan, serta menimbulkan kekurangan lain yang mengurangi kualitas hasil pengecatan.

Dalam menjalankan bisnis bengkel cat mobil, material yang dipakai dalam proses pengecatan juga harus diperhatikan. Berikut kami berikan beberapa jenis cat yang umum digunakan :

1.  Cat Stoving

Cat stoving biasa digunakan pada bengkel cat mobil yang mempunyai oven, karena jenis cat tersebut memerlukan proses pengovenan untuk pengeringannya. Sehingga hasil cat stoving akan lebih keras dan lebih tahan terhadap goresan atau scratch body. Sehingga harga jasa pengecatan mobil dengan cat ini lebih mahal dibandingkan dengan yang lain.

2Cat Lacquer

Jenis yang kedua yaitu cat lacquer, cat jenis ini harganya lebih murah dan lebih cepat kering. Tetapi warna cat yang dihasilkan tidak tahan lama dan mudah kusam, paling lama hanya bertahan kurang lebih satu sampai dua tahun.

3. Cat Urethane

Sedangkan jenis cat urethane biasa dijadikan pilihan kedua bagi para konsumen, karena biayanya lebih murah daripada cat stoving dan hasilnya bisa lebih tahan lama dibandingkan kualitas cat lacquer. Selain itu cat urethane juga memiliki kualitas yang lebih gloss dan tahan lama, walaupun kekerasan atau hardness terhadap goresan masih kurang jika dibandingkan dengan cat stoving.

Selain kualitas cat, perawatan cat mobil juga perlu diperhatikan. Pemolesan dengan obat pemoles  cat mobil bisa dicoba digunakan dalam perawatan cat mobil.

Berikut kami berikan pula tips dan cara yang tepat dalam memoles cat mobil  :

  1. Sebelum memoles cat mobil, pastikan mobil Anda dalam keadaan bersih. Lebih baik jika dicuci terlebih dahulu ( lakukan pencucian di tempat yang terhindar dari matahari langsung ).
  2. Setelah mobil kering, kemudian siapkan obat pemoles yang biasa Anda gunakan. Terlebih dahulu baca aturan pakai yang ada pada bungkus, karena tiap obat memiliki cara atau aturan pakai yang berbeda.
  3. Lakukan pemolesan secara bergantian perbagian, misalnya pada bagian kap mobil terlebih dahulu. Sehingga Anda tidak lupa bagian mana saja yang sudah dipoles, dan tidak perlu mngulangi bagian yang sudah dipoles.
  4. Gunakan obat poles secukupnya, kemudian sapukan dengan gerakan memutar da arah yang teratur menggunakan spon halus yang sudah dibasahi sedikit air.
  5. Obat poles jangan sampai mengenai material plastik maupun karet untuk mencegah bekas sisa obat poles yang kerap kali sulit dihilangkan pada material selain dari permukaan cat.
  6. Biarkan obat poles hingga kering. Setelah itu ganti spon pemoles dengan kain kering dari bahan katun . Poleslah permukaan cat yang telah diberi obat pemoles hingga kering tadi dengan gerakan memutar dan arah yang teratur.
  7. Anda tidak perlu menekan alat pemoles, cukup arahkan alat tersebut dengan gerakan memutar.
  8. Ulangi proses tersebut pada bagian yang belum dipoles, hingga merata semua bagian.

Semoga beberapa tips sukses bisnis bengkel cat mobil yang kami berikan dapat membantu Anda. Salam sukses.

Info terkait :

- Berbisnis Salon Mobil Masih Berpeluang
- Ketekunan, Merubah Kerugian Menjadi Keuntungan
- Membuka Bisnis Bengkel Mobil
- Kisah Sukses seorang Pembersih Kaca

Sumber gambar : tipshandal.blogspot.com dan http://202.43.165.157/gramedia/otomotif/otoweb/index.php?templet=otonews/Content/0/0/1/7/2814

Samosa

Samosa adalah pastry goreng berbentuk segitiga, Makanan ringan ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah sebelum abad ke-10 dan diperkenalkan ke anak benua India pada abad ke-13 atau abad ke-14 oleh para pedagang dari kawasan Asia Tengah. Rasanya gurih dengan bumbu dari rempah-rempah dan isi daging sehingga cocok sebagai camilan sehat.

Dengan bangga, Snack-snacks mengemas dan memasarkan samosa untuk memenuhi pecinta snack. Untuk pemesanan: 081 7030 6059

Kreasi Kerajinan Kertas Koran Bekas

Yogyakarta sebagai kota budaya dikenal dengan beraneka ragam hasil kerajinan tangan. Bahan baku yang biasa digunakan untuk kerajinan tangan pun beraneka ragam, mulai dari perak, berbagai macam kayu, berbagai macam kain, dll. Barang kerajinan yang diproduksi pun tak kalah ragamnya, mulai dari perhiasan, tas, sandal, hingga miniatur-miniatur yang menarik.

Kreatifitas masyarakat Yogyakarta boleh dibilang tak pernah redup ditelan jaman. Kini dengan semakin merebaknya informasi tentang pemanasan global, orang-orang kreatif pun berlomba-lomba mencari inovasi untuk memanfaatkan barang-barang bekas untuk menjadi barang yang bisa dipakai kembali. Salah satu inovasi yang memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas adalah kerajinan dengan bahan baku kertas koran.

Mungkin sebagian dari kita akan mengernyitkan dahi ketika mendengar ada sandal yang terbuat dari kertas koran. Namun berkat kreatifitas dan ketekunan, kini telah ada sandal dengan bahan baku utamanya berupa kertas koran yang tentunya awet, kuat, dan tahan lama. Tidak hanya sandal saja yang bisa dibuat dari kertas koran. Berbagai macam tas dengan ukuran dan model yang bervariatif pun bisa Anda miliki. Selain itu, ada pula tas laptop yang unik dengan bahan baku kertas koran, dan tempat tisu yang akan menambah eksotik meja tamu rumah Anda.

Kerajinan dari kertas koran ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata, karena produk kerajinan ini telah sampai ke Amerika Serikat. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena kini dimanapun Anda berdomisili, Anda bisa mendapatkan berbagai macam hasil kerajinan dari kertas koran tanpa perlu datang langsung ke Yogyakarta. Dengan memanfaatkan fasilitas internet, Anda bisa memesan berbagai macam kerajinan tersebut melalui contact support bisnisUKM.com.

KATALOG PRODUK
Silahkan download katalog produk berikut untuk lebih lengkapnya ( klik kanan dan pilih Save link as):
-
Katalog Berbagai Sandal (PDF File, ukuran 443 KB)
- Katalog Tas dan kotak tissue ( PDF file, ukuran 324 KB)

Informasi Pemesanan
» Telp. 0274-3000-422 (10.00 AM – 16.00 PM)
» SMS : 081 329 612 111 ( 24 jam )
» Email : support@bisnisukm.com
Beberapa Contoh Produk Kerajinan kertas koran bekas

sandal-kerajinan-kertas

box-tissue-kerajinan-kertas
tas-kerajinan-kertas
tas-kerajinan-kertas-2
tas-kerajinan-kertas-3
sandal-kerajinan-kertas-2
tas-kerajinan-kertas-5
tas-kerajinan-kertas-4
sandal-kerajinan-kertas-3
sandal-kerajinan-kertas-4sumber: http://bisnisukm.com/kreasi-kerajinan-kertas-koran-bekas.html

Strategi Bank dalam Menghadapi ACFTA: “MENGEMBANGKAN PEMBIAYAAN UKM DENGAN MEMPERKUAT MANAJEMEN RISIKO”

Dalam acara workshop dua hari, pada tanggal 21-22 April 2010,  yang diselenggarakan oleh Indonesian Risk Professional Association, para staf/pejabat dari berbagai Perbankan dan Lembaga Keuangan mencoba membahas, apa peluang  diterapkannya ACFTA dan bagaimana strategi Bank dalam menghadapinya. Disini Bank berperan untuk membiayai berbagai usaha debitur, yang tentunya akan ada pengaruhnya sehubungan dengan diterapkannya ACFTA sejak bulan Januari 2010. Bagaimana pengaruhnya terhadap usaha debitur, apa peluang dan tantangan Bank dalam pembiayaan, dan bagaimana mengembangkan pembiayaan UKM dengan tetap memperhatikan manajemen risiko.  Saya akan mencoba meringkasnya di bawah ini.

Latar belakang

Globalisasi diharapkan membawa proses sosial dan ekonomi yang alamiah, yang  membawa negara dari berbagai penjuru dunia berada dalam satu ikatan yang semakin kuat untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan baru, dalam kesatuan ko-eksistensi yang menghapus batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat dunia, sehingga terdapat perekonomian yang efisien dan berimbang.

Dengan globalisasi, diharapkan adanya:

  1. Kesamaan pandang dan prinsip: the same level of playing field: standarisasi, kompetensi, regulasi.
  2. Liberalisasi dan integrasi perekonomian (borderless world).
  3. Pengurangan proteksi ekonomi domestik.
  4. Akses Pasar dan kerjasama terbuka luas: ACFTA (Asean-China Free Trade Agreement).
  5. Peningkatan volume perdagangan produk unggulan setiap negara.
  6. Benchmarking dan tuntutan stakeholder (regulator, investor, konsumen, rating agency, manajemen dan karyawan perusahaan), agar negara dan produsen mengikuti praktek terbaik dari global market.
  7. Perubahan pesat bidang teknologi, sistem informasi, dan komunikasi: Perubahan pesat ini akan merubah cara berbisnis, menjadi IT driven Business, seperti: E-Banking, I-Banking, Everywhere-Banking. Adanya tekanan bagi Bank untuk menciptakan inovasi produk keuangan, seperti derivatives dan Bankassurance. Juga diperlukan kecepatan, keamanan dan kenyamanan bisnis memanfaatkan saluran elektronik (high tech dan high touch)
  8. Meningkatnya systemic risks.

Terjadi kecenderungan perubahan dari Second Wave ke Third Wave (Alfin Tofler), yang dicirikan oleh:

  • Sifat organisasi : hierarchy menjadi lebih flat, mengutamakan networking, lebih fleksibel, dan organisasi diharapkan lebih mudah beradaptasi agar bisa mengikuti perubahan
  • Apa yang sebelumnya mengejar market share menjadi berupaya ke arah  market creation.
  • Empowerment.
  • Kesuksesan perusahaan : visi, misi dan value. creation, gaya kepemimpinan yang visioner.
  • Kualitas produk dan layanan yang prima menjadi prioritas.
  • Orientasi karyawan: dari job security > personal growth.
  • Kekuatan perusahaan dari penumpukan cash ke penguasaan informasi.
  • Sikap karyawan dari risk aversion menjadi risk prone.

Apa Arti ACFTA?

Kesepakatan pembentukan perdagangan bebas ACFTA diawali oleh kesepakatan para peserta ASEAN-China Summit di Brunei Darussalam pada November 2001. Hal tersebut diikuti dengan penandatanganan Naskah Kerangka Kerjasama Ekonomi (The Framework Agreement on A Comprehensive Economic Cooperation) oleh para peserta ASEAN-China Summit di Pnom Penh pada November 2002, dimana naskah ini menjadi landasan bagi pembentukan ACFTA dalam 10 tahun dengan suatu fleksibilitas diberikan kepada negara tertentu seperi Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam.

Pada bulan November 2004, peserta ASEAN-China Summit menandatangani Naskah Perjanjian Perdagangan Barang (The Framework Agreement on Trade in Goods) yang berlaku pada 1 Juli 2005. Berdasarkan perjanjian ini negara ASEAN 5 (Indonesia, Thailand, Singapura, Philipina, Malaysia) dan China sepakat untuk menghilangkan 90% komoditas pada tahun 2010. Untuk negara ASEAN lainnya pemberlakuan kesepakatan dapat ditunda hingga 2015. Pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN-6 dengan RR China yang dimulai pada  1 Januari 2010 membuat banyak pihak terperangah, walaupun sebetulnya kesepakatan ini telah ditandatangani lama. Masyarakat belum memahami apa manfaat, ancaman maupun konsekuensi dari pemberlakuan ACFTA ini. Namun demikian, karena ini telah disepakati, ada baiknya kita lebih mengenal dan memahami, sehingga dapat melakukan langkah-langkah strategis yang diperlukan.

Peluang adanya ACFTA

  1. Dengan akses pasar yang makin terbuk, maka terjadi peningkatan volume perdagangan produk unggulan setiap negara ASEAN 6 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam) ke China (jumlah penduduk 1,3 miliar dan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia).  Begitu pula sebaliknya dari China. Selain itu akan terjadi peningkatan kapasitas produksi, pemasaran, SDM dan lembaga. Pengusaha dapat mengurangi kelebihan persediaan akibat kegairahan berproduksi. Kita juga dapat meningkatkan produk komplemen yang tidak mampu dihasilkan oleh China. Dan yang penting adalah bagaimana agar terjadi peningkatan efisiensi, produktivitas dan kreativitas guna peningkatan daya saing berkelanjutan, yang pada akhirnya akan menghasilkan peningkatan margin keuntungan.
  2. Harga barang dan jasa di pasaran menjadi lebih murah, dengan pilihan ragam yang semakin banyak.
  3. Peluang industri manufaktur yang berbasis sumberdaya alam meningkat.
  4. Ekspor komoditas dan produk pertanian dan produk bersumberdaya alam yang spesifik dari Indonesia meningkat (kelapa sawit, karet, kakao, kopi, dll).

Tantangan adanya ACFTA

Mau tak mau kita semua harus siap dalam menghadapi ACFTA ini, karena bila kalah bersaing dengan produk China ataupun Negara lain, akan terjadi:

  • Penurunan penjualan produk-produk  dalam negeri.
  • Industri manufaktur nasional dapat terancam eksistensinya, menimbulkan pengangguran.
  • Potensi kerugian termasuk di sektor baja, elektronik, tekstil dan produksi teksil (TPT), furnitur, alas kaki, mebel, kerajinan yang berbasis metal.
  • Potensi kerugian di sektor industri dapat  bernilai triliunan akan dirasakan di kuartal pertama tahun 2010, terutama bagi sunset industry

Bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi ACFTA?

Negara, perusahaan dan produk Indonesia harus mampu bersaing di pasar domestik dan pasar bebas ACFTA:

  • kualitas, harga dan keberagaman produk dan pelayanan.
  • mampu memanfaatkan ACFTA dengan memasuki pasar global.
  • mencapai skala ekonomi agar mampu bertahan secara sustainable.
  • mengembangkan industri andalan, unggulan dan sunrise industry.

Apa peran Perbankan dalam menghadapi ACFTA?

  • Perluasan pasar Asean 6 – China, dan pasar domestik.
  • Pembukaan outlet dan kantor cabang di Asean 6 dan China.
  • Peningkatan kapasitas pembiayaan dan mobilisasi dana.
  • Pembiayaan UMKM unggulan.
  • Penerapan manajemen risiko agar bank mampu menangkap peluang (strategic risk management) dan meningkatkan efisiensi.

Apa yang dimaksud dengan profil Bisnis UKM Unggulan?

  • Agribisnis dan Agroindustri:(dari hulu sampai hilir). Ada peluang ekspor komoditas dan produk spesifik Indonesia berpotensi meningkat (kelapa sawit, karet, kakao, kopi, kopra, buah eksotik:salak, mangga, manggis, duku, dll).
  • Industri kreatif.
  • Industri/jasa yang berbahan baku domestik.
  • UKM berbasis sumber daya lokal.
  • Produk manufaktur khas Indonesia.
  • Komoditas dan produk ciri khas geografis Indonesia.

Komoditas dan Produk Agribisnis potensial yang diekspor ke China:

Komoditas dan produk agribisnis potensial yang diekspor ke China, antara lain: Kelapa sawit (CPO dan turunannya), karet alam, kakao, Kopi, Rempah-rempah, produk biofarma, Pulp dan kertas, minyak atsiri, tanaman obat, gambir, rotan (olahan)

Sedangkan komoditas/produk non komplementer  yang potensial, antara lain:

  • Buah-buahan tropika eksotik (mangga, nenas, pisang, durian, manggis, rambutan, pepaya).
  • Sayuran tropika khusus (kacang panjang, nangka, labu siam, kangkung dll).
  • Ikan tangkap: kerapu, ikan pari, tuna, teri dll.
  • Udang.
  • Rumput laut.
  • Makanan olahan khas Indonesia.

Produk Indonesia masih mampu bersaing, disebabkan: Indonesia paling sedikit bersaing head to head dengan produk China, dibandingkan dengan negara lain, Malaysia 88%, Thailand 91% dan Indonesia baru 26%. Usahawan Indonesia baru sekitar 20% yang membidik pasar Luar Negeri dan baru 11 % berorientasi ekspor. Pelaku usaha dapat menyiasati dengan mencari produk yang tak mungkin disaingi oleh China, misalnya kain berbasis kreatif, batik tulis, karya seni dsb nya.

Industri kreatif , termasuk industri yang sulit disaingi, karena industri kreatif adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dengan mengandalkan kreativitas, keahlian, dan bakat, yang memiliki potensi ekonomi dan menciptakan peluang kerja bagi banyak orang. (UK Government Department of Culture). Industri kreatif adalah industri yang berfokus pada kreasi dan eksploitasi  karya kepemilikan intelektual: seni rupa, film dan televisi, piranti lunak, permainan, atau desain fesyen, termasuk layanan kreatif antar perusahaan seperti iklan, penerbitan dan desain (Wikipedia).

Kinerja industri kreatif dalam menyumbang PDB nasional semakin dapat diperhitungkan. Rata-rata kontribusi PDB industri kreatif Indonesia tahun 2002-2006 = 6,3 % dari total PDB nasional, dengan nilai Rp.104,6 triliun. Kontribusi industri kreatif tahun 2009 = 7,6% dari PDB. Nilai ekspor industri kreatif : Rp.81,4 triliun = 9,13 % terhadap total nilai ekspor nasional. Penyerapan tenaga kerja = 5,4 juta tenaga kerja. PDB industri kreatif di peringkat ke 7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada di Indonesia, dengan dominansi kelompok fesyen, kerajinan, periklanan dan desain. Potensi industri kreatif lebih banyak dilakukan oleh anak-anak muda.  Berdasarkan demografi, penduduk Indonesia didominasi oleh anak muda berusia di bawah 29 tahun.

Proyeksi kinerja 5-10 tahun mendatang: Sumbangan industri kreatif  bisa mencapai 9% dari PDB, dengan nilai total ekspor produk kreatif Rp114,9 triliun  atau  7,52% dari PDB nasional. Kontribusi ekonomi kreatif yang berbasis budaya, seni, dapat menyerap 7,7 juta tenaga kerja. Melihat kondisi tersebut, terlihat bahwa industri  kreatif layak diperhitungkan, apalagi didominasi oleh anak muda.

Bagaimana kesiapan UKM menghadapi ACFTA?

  • Walau peranannya sangat strategis, namun UKM masih memiliki berbagai kelemahan dan tantangan.
  • Belum seluruh UKM memiliki kesiapan menghadapi ACFTA.
  • Kelemahan masih pada manajemen dan SDM, teknologi dan produksi, marketing, daya saing, produksi, dan permodalan.
  • Budaya dan paradigma bersaing yang masih perlu ditingkatkan.
  • Bila Bank mampu mendeteksi kelemahan UKM dan berhasil membantu memperbaikinya hingga bankable, terdapat potensi nasabah sebagai sumber pendapatan bank secara jangka panjang.

Fakta dan keterbatasan UKM

Jumlah UMKM tahun 2006 sekitar 48 juta, namun yang telah memperoleh kredit Bank hanya sekitar 16,8 juta (35%) Sebabnya: a) keterbatasan UKM dalam memenuhi persyaratan mendapatkan kredit dari bank. b) Ketiadaan jasa bank komersial di suatu daerah tertentu.

Dari hasil analisis terhadap UKM, dapat diketahui bahwa:

  1. Peluang dari UKM : a). Populasi unit usaha UMKM sangat dominan (99,9%). b). Kemampuan menampung tenaga kerja sangat dominan (96,18%). c). Tahan terhadap krisis/ulet. d). Kegiatan usaha relative sederhana, fleksibel, efisien, margin tinggi. e).Umumnya taat membayar kredit (NPL 3,5%). f). Peluang cross selling. g). Kurang sensitive terhadap sukubunga. h).Banyak usaha berbasis agribisnis, dan industri kreatif yang terbuka luas untuk UKM. i).Profitabilitas tinggi. j).Potensi pasar masih luas. k).Diversifikasi portofolio, pendapatan dan risiko.l).Bobot risiko lebih rendah, sehingga menghemat PPAP dan modal.
  2. Tantangan (yang masih harus diperbaiki) : a)Kontribusi UMKM pada PDB relatif kecil (53,28%). b)Manajemen masih tradisional. c)Catatan dan laporan keuangan masih sederhana dan kadang harus direcasting oleh Bank. d)Kualitas SDM. e)Skala dan teknik produksi yang masih terbatas. f)Pasar kecil dan kemampuan pemasaran terbatas, kurang mampu mengantisipasi permintaan pasar. g)Minimnya diversifikasi produk. Akses informasi terbatas. h)Sistem teknologi produksi dan informasi masih sederhana.  i) Tidak memiliki produk unggulan yang spesifik. Infrastruktur yang tidak memadai. j)Keterbatasan UKM dalam memenuhi persyaratan mendapatkan kredit dari bank. k)Ketiadaan jasa Bank komersial di suatu daerah tertentu.

Sumber bacaan:

  1. Angreni, G.R. dkk.” Strategi Bank dalam Menghadapi ACFTA: Mengembangkan Pembiayaan UKM dengan Meningkatkan Manajemen Risiko.” Dibawakan dalam workshop IRPA, Jakarta, 21-22 April 2010.
  2. Gumbira, E. “Dampak dan Peluang Asean-China Free Trade Agreement pada Kinerja Agribisnis dan Agroindustri Indonesia”. Institut Pertanian Bogor, 2010
  3. Yogix. “Apa itu ACFTA? “http://blogs.unpad.ac.id/yogix/2010/02/22/apa-itu-acfta/

Ditulis dalam Keuangan